Suatu sore yang indah, tepatnya di ujung selatan kotaku. Tampak
dua sejoli duduk dengan jarak yang nampaknya berjauhan. Bukan karena marahan,
melainkan style keduanya memang
seperti itu. Tampak sang pria memainkan gadjet-nya
dan senyum simpulnya menghiasi wajah. Sementara sang gadis duduk melihat
suasana kota yang tampak damai penuh inspirasi. Keduanya memang berbeda namun
ada seutas tali yang menyatukan mereka. Tali itu bernama cinta. Apapun
perbedaan itu, asal cinta semuanya tak akan menjadi masalah.
Kelapa muda yang biasa dihidangkan kali ini tak tampak di
depan mata. Maklum saja warung degan yang biasa mereka datangi hari ini tutup
dan hanya ada warung es teh manis. Sambil menyeruput es teh manis seharga
1500,- keduanya saling bergumam bercerita tentang hal apa yang akan dilakukan setelah wisuda ini. Tampaknya mata tak bisa berbohong, tak ingin ada perpisahan. Semoga Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik untuk keduanya, gumam sang gadis dalam hati.
Sruputan terakhir pertanda mesti bergegas pulang karena
waktu menunjukkan pukul 17.15. Seperti biasa keduanya melepas senyum pada ibu
penunggu warung es teh dan bapak pedagang bakso bakar. Senyum terima kasih.