Total Tayangan Halaman

Sabtu, 24 Maret 2012

CELOTEHAN DI SENJA HARI SEBELUM SHALAT MAGRIB

ketika mulai rapuh apakah mesti mundur?
ketika merasa tak mampu apakah lantas harus berhenti?
kemudian apakah hati ini akan tetap bersatu?
pertanyaan-pertanyaan retoris ini berterbangan di kepalaku.
seolah mengece, ia menari indah layaknya penari balet profesional.
'sial' pikirku.

Rabu, 21 Maret 2012

Hari ini bertambah pula ilmu yang ku peroleh
Tentang indahnya kehidupan
Tentang hiruk pikuk dunia yang nampak bringas dipandang
Tentang keluh kesah yang sering kali menghampiriku
Tentang curcol sahabat yang ku terima dengan senang hati
hidupku biasa-biasa saja
Namun dari yang biasa itu akan tercipta sesuatu yang luar biasa.

Minggu, 18 Maret 2012

cerpenku saat mengisi salah satu tugas makul Telaah Buku Teks ^_^

Wajan dan Sutil Ibu

_nanik_
Sreng……. Sreng……. sreng…………
Tepat pukul 04.30 terdengar suara sutil dan wajan yang seperti biasa dialunkan oleh sang maestro koki. Meski koki rumahan yang kreatifitasnya terkungkum dalam keterbatasan material, kualitas rasa masakannya tak kalah dibanding dengan koki restoran bintang lima. Pukul 05.00 seperti biasa terdengar suara ia meneriakiku untuk segera menjalankan ibadah shalat subuh. Seperti biasa, pintu kamarku digedornya. Dan seperti biasa pula, “hemmmmmm” balasanku. Semua telah menjadi hal yang biasa dan semua menjadi terbiasa karena dibiasakan. Ditinggalnya aku kemudian dilanjutkan kembali ritual memasaknya. Setelah shalat subuh, aku kembali tidur dan bangun pada pukul 06. 00. Ritualku ketika aku bangun pagi adalah tanpa mencuci muka bahkan sekedar sikat gigi, aku langsung bergegas mengambil sapu dan ku sapu seluruh isi rumah dari debu yang melekat pada lantai. Ku tepiskan debu yang menempel pada kursi dan jendela dengan kemoceng. Setelah itu aku bergegas ke dapur. Kehampiri Ibu yang sedang asik menyeruput secangkir teh panas kesukaannya. Seharusnya tadi aku yang membuatkannya untuk Ibu, pikirku.


cerpen saat majalah sekolah karya aku

Aku dan Tepian

“tiktiktik…..bunyi hujan di atas genting……” gumamku sambil memandangi rintik hujan yang turun kian deras. Ya, sepertinya 2 tahun ini negeri Jamrud Khatulistiwa akan diguyur hujan tiada henti. Sesekali aku melongok keluar jendela, waaaaah…….udara dingin menyergapku, menyelimutiku hingga ketulang-tulangku. Keheningan di sore ini menambah suasana senja yang semakin menggelap. Namun, tiba-tiba saja terpecahkan oleh suara petir yang menghentakkan keheninganku.