ketika mulai rapuh apakah mesti mundur?
ketika merasa tak mampu apakah lantas harus berhenti?
kemudian apakah hati ini akan tetap bersatu?
pertanyaan-pertanyaan retoris ini berterbangan di kepalaku.
seolah mengece, ia menari indah layaknya penari balet profesional.
'sial' pikirku.
