Total Tayangan Halaman

Minggu, 22 September 2013

Ilmu Jarak



Sayang, kau tahu gunung itu? iya, gunung itu yang menghalangi jasad kita untuk bertemu. Yang menjadikan kita terkadang terhambat mencurahkan rasa rindu. Terkadang mesti tertatih-tatih hanya untuk saling bersua. Dan terkadang menjadi masalah untuk kita berdua. Dan kau tahu tidak berapa kilometer jarak yang terpampang di depan mata kita? rasanya ingin sekali ku ukur dengan meteran jahit yang biasa digunakan ibu untuk mengukur kain. Membayangkannya saja sudah membuat kram persendianku.

Kita memang berdua namun pada kenyataannya kita berjalan sendiri menempuh berbagai rintangan yang tajam. Meskipun demikian, kau tahu hati kita tetap saling berpegangan dan saling menopang. Asal kita tetap saling menggenggam, segalanya akan berasa lebih manis.
Ada yang bilang, mengapa cincin pernikahan diletakkan di jari manis karena jari manis langsung berhubungan dengan jantung. Jadi sepasang makhluk ciptaan Tuhan yang saling mencinta akan seperti itu. Apakah kita kelak akan seperti itu? Akankah kelak kau akan memasangkan cincin di jari manis yang ku miliki? Aku tak memiliki kekuatan untuk menjawabnya apalagi membayangkannya.
Terkadang aku berfikir kalau ini tak adil. Katanya cinta. Kenapa harus terpisah? Lama aku berfikir mencari jawabannya. Lama dan lama sekali. Dan pada akhirnya ku temui jawabannya yaitu, karena pada dasarnya semua ini memang harus terpisah dan pergi. Ada perpisahan karena ada pertemuan. Hidup mesti berjalan meski pedih. Namun itu yang mesti dibayar dalam setiap kesempatan hidup.
Tuhan, apakah ini sesungguhnya cinta yang kau takdirkan untukku? Engkau jauh mengerti apa yang terbaik untukkku. Jika suatu saat cinta dan harapanku terlalu berlebihan, tolong ingatkan aku pelan-pelan, Tuhan.
Jarak mengajarkanku, betapa berharganya waktu ketika kita bertemu. Kelak ketika kita memang ditakdirkan bersama, aku akan menyambutmu di sudut rongga kerinduanku yang selama ini sengaja ku biarkan tetap berongga agar kelak dapat kau tutup dengan rindu kuadrat yang kau miliki. Aku sudah kehilangan ragamu, dan aku tak ingin kehilangan cinta dan perhatianmu.
Aku tetap menunggu saat dimana kita bisa bergandengan tangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar