Total Tayangan Halaman

Minggu, 18 Maret 2012

cerpen saat majalah sekolah karya aku

Aku dan Tepian

“tiktiktik…..bunyi hujan di atas genting……” gumamku sambil memandangi rintik hujan yang turun kian deras. Ya, sepertinya 2 tahun ini negeri Jamrud Khatulistiwa akan diguyur hujan tiada henti. Sesekali aku melongok keluar jendela, waaaaah…….udara dingin menyergapku, menyelimutiku hingga ketulang-tulangku. Keheningan di sore ini menambah suasana senja yang semakin menggelap. Namun, tiba-tiba saja terpecahkan oleh suara petir yang menghentakkan keheninganku.

Sore ini, seharusnya aku sudah berada di Wisma Suka Ria tempatku untuk  berbagi kepada ‘mereka’ yang membutuhkan. Yah, walau hanya sekedar ilmu yang  dapat ku bagi kepada ‘mereka’, bukan harta maupun tahta. Ketika melihat suasana yang riuh dengan suara hujan dan petir yang kian menciutkan hatiku, ada sedikit keraguan saat ku mulai melangkahkan kakiku. Terlebih disaat kulihat kubangan air  yang menggenang di depan mataku. Keraguanku semakin memuncak ketika terdengar gemuruh petir disertai cahayanya yang gemerlap menyambar pohon- pohon tinggi di depan tempat ku bernaung. Tapi, kupikir-pikir, ‘mereka’ disana lebih membutuhkanku. Ku langkahkan kakiku selangkah demi selangkah melewati kubangan demi kubangan air kotor, melewati gang-gang sempit diperkotaan yang sebesar ini. Pandanganku kemudian tertuju pada anak kucing yang tertelungkup basah kuyup di bawah pohon cemara kecil. Ku gapai anakan kucing itu dan ku tempatkan ia di tempat yang teduh, jauh dari ancaman sesuatu yang berbahaya.
Jauh di depanku tampak gubuk indah (bagiku) menjulang dengan cantik. Itulah Wisma Suka Ria. Wisma kebanggaanku. “greeeeeek………..” terdengar suara pintu di buka. Muncul sosok anak kecil menyelinap keluar rumah. Ia salah satu dari sepuluh malaikat kecilku. Di peluknya aku. Dengan tatapan penuh bahagia, ia memberiku sebuah senyuman. Senyuman terindah untukku darinya. Ya, ditempat ini aku merasa benar-benar bahagia. Bahagia sebahagianya. Bahagia melihat ‘mereka’ memperoleh apa yang seharusnya mereka peroleh. Bahagia karena merasa berarti untuk mereka. Dan bahagia karena kekosongan hidupku mulai terisi kembali.
Aku mahasiswa disalah satu Perguruan Tinggi Swasta di kota Surakarta Hadiningrat. Keseharianku bagaikan kupu-kupu (kuliah pulang- kuliah pulang). Rasanya begitu monoton. Namun, segala sesuatunya berubah ketika kuputuskan untuk mengabdikan diriku untuk ‘mereka’. Ya, perubahan itu terjadi dalam hidupku dan berdampak positif untukku. Aku mulai memiliki pandangan dan tujuan hidupku ke depan. Tak pernah ku sesali ketika aku harus berjalan melewati pemukiman kumuh. Menelusuri tapak demi tapak rimbunnya semak belukar yang menantangku. Tak ingin munafik, kadang aku merasa ragu untuk meneruskan ini semua. Tapi ini adalah jalan yang ku pilih sendiri, tanpa campur tangan orang lain. “Mudah untukku” adalah kata mujarab sebagai sarana penguatku. Menganggap semua terasa mudah rasanya cukup membantuku dalam menghadapi tantangan.
Adanya ‘mereka ‘ semakin menguatkan aku. Aku jatuh cinta pada ‘mereka’. Pada keluguan, kelucuan, kejujuran, kerja keras dan pada usaha mereka untuk maju. Tak puasnya aku memandangi mereka ketika lelah setelah menerima pelajaran. Seolah-olah mereka selama ini tak pernah tidur. Tampak wajah-wajah polos mereka. Wajah-wajah yang seharusnya merasakan indahnya hidup dengan balutan rasa aman, nyaman, dantentram. Ya, setidaknya rasa keadilan yang mereka peroleh dari sela kekuasaan yang tak kunjung menoleh pada mereka.
Ku lewai hari-hariku bersama ‘mereka’. Suka duka mereka bagi bersamaku. Begitu bangganya aku ketika mereka memanggilku dengan sebutan “Ibu”. Serasa melayang-layang di udara tubuhku. Sejak saat itu ku tekatkan hatiku untuk berbakti kepada ‘mereka’. Ya, cukup mereka saja…………

2 komentar: