Wajan dan Sutil Ibu
_nanik_
Sreng……. Sreng……. sreng…………
Tepat
pukul 04.30 terdengar suara sutil dan wajan yang seperti biasa dialunkan oleh
sang maestro koki. Meski koki rumahan yang kreatifitasnya terkungkum dalam
keterbatasan material, kualitas rasa masakannya tak kalah dibanding dengan koki
restoran bintang lima. Pukul 05.00 seperti biasa terdengar suara ia meneriakiku
untuk segera menjalankan ibadah shalat subuh. Seperti biasa, pintu kamarku
digedornya. Dan seperti biasa pula, “hemmmmmm”
balasanku. Semua telah menjadi hal yang biasa dan semua menjadi terbiasa karena
dibiasakan. Ditinggalnya aku kemudian dilanjutkan kembali ritual memasaknya.
Setelah shalat subuh, aku kembali tidur dan bangun pada pukul 06. 00. Ritualku
ketika aku bangun pagi adalah tanpa mencuci muka bahkan sekedar sikat gigi, aku
langsung bergegas mengambil sapu dan ku sapu seluruh isi rumah dari debu yang
melekat pada lantai. Ku tepiskan debu yang
menempel pada kursi dan jendela dengan kemoceng. Setelah itu aku bergegas ke
dapur. Kehampiri Ibu yang sedang asik menyeruput secangkir teh panas
kesukaannya. Seharusnya tadi aku yang
membuatkannya untuk Ibu, pikirku.
”Dah lapar
to? tanyanya sembari menyeruput tehnya kembali.
“He’em
lapar bu. Mau masak apa? Bapak mana bu?”. “lha itu di depan rumah. Sana ke Mbak
Tari beli sayur dulu. Terserah pilih yang kamu suka.” Lanjutnya kemudian.
“Iya.”
Ku kayuh
sepeda onthelku menuju rumah Mbak Tari untuk membeli sayur. Kios sayur dekat
rumahku satu-satunya memang hanya kios milik Mbak Tari, tetanggaku. Setelah
membeli segala sesuatu yang aku perlukan, aku bergegas pulang. Tanjakan menuju
rumahku membuatku semakin lapar saja. Hadewhhhh,
keluhku. Dan akhirnya sampailah aku dirumah. Kuberikan
semua belanjaan kepada Ibu. Dan kami bersiap untuk mengolahnya.
“Jadi balik nanti?“ Ibu mulai
bertanya padaku.
“He’em bu“.
“Ya udah. Mau bawa apa?“.
“Bawa apaan yo? Gak usahlah bu.“
Senyumku.
Aku segera memotong wortel, kubis, kentang yang akan
dimasak oleh Ibu. Segala macam bahan masakan yang hendak dimasak, aku potong
dengan baik sesuai instruksi dari Ibu. Setelah selesai mengerjakan semua urusan
rumah, aku segera mengemasi barang yang akan aku bawa ke Solo lagi. Setelah
kupikir semua telah selesai, aku menghampiri Ibu di dapur lagi. Tampak ia sedang
mengemasi masakan untukku. Dengan telaten ia melakukan semuanya seorang diri.
Aku hanya tertegun melihatnya melakukan itu semua. Wajah tuanya yang mulai
keriput mencerminkan kecantikan yang sesungguhnya. Kecantikan seorang Ibu.
“Ini dibawa aja nduk“ perintah Ibu.
“Gak usah bu, buat bapak sama mas aja di rumah.“
“Ya Allah nduk, Ibu lho di rumah selalu mikirin kamu
kalo di Solo makannya gimana kok. Ibu gak apa gak makan yang penting anak Ibu
makan.“ ucapnya dengan nada sedih.
Aku hanya diam tak berkutik ketika kudengar Ibuku
mengucapkannya dengan sedih. Oh Tuhan,
apakah aku sudah membuatnya bersedih? Tuhan ampuni aku, batinku miris.
Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke Solo saja.
Wajan dan sutil Ibu meski sudah tampak tak layak pakai
namun masih bisa memberikan sesuatu yang sangat mengesankan untukku. Aku banyak
belajar dari ibu tentang segala hal yang ada di dalam hidupku. Entah hal
sekecil apapun itu. Di rumah, tempat yang biasa kami gunakan untuk bergosip
biasanya di dapur. Serambi
memasak, kami mulai membicarakan hal-hal yang tak penting sampai hal-hal yang
penting. Dan biasanya tertawa lepaspun tempatnya ya di dapur ini berdekatan
dengan wajan dan sutil milik Ibu. Kami berdua seperti seorang sahabat. Kadang
dengan guyon, aku memanggil Ibu
dengan sebutan “Jeng Mami”. Begitu pula Ibuku ketika bercanda sering
memanggilku dengan sebutan “Mak Lampir” karena hobiku yang suka marah-marah tak
jelas atau istilah gaulnya “Geje” dan biasanya disertai dengan monyongnya bibirku sehingga bisa dikucir
kata Ibu. Ledekan-ledekan seperti itu membuatku menjadi kangen terhadap suasana
rumah, kangen kepada Bapak, kangen kepada Ibu, kangen kepada Kakak dan kangen
kepada wajan dan sutil kebanggaan Ibu. Alat sederhana yang dapat menyatukan
visi dan misi antara aku dan Ibu.
Ibu, aku rindu padamu……………
Ibu, bolehkah aku sedikit mengeluh padamu?
Tapi
jangan bilang sama Bapak ya….
Bu,
aku capek.....
Perasaan putus asa seperti ini kadang menyelinap masuk
diantara pikiranku yang sedang fokus mengerjakan tugas-tugasku. Sudut mataku
mulai berair karena kelelahan menatap layar monitor si bulug, laptop kesayanganku yang meski bobrok pada keyboardnya tapi masih bisa kugunakan
sampai semester tujuh ini. Seraya melepaskan kacamataku yang sedari tadi
menempel pada mataku, kupejamkan mataku. Terlintas kembali memoriku bersama
keluargaku. Keluarga kecil yang konflik, bahagia, iri, kompak menjadi satu
berbaur dengan segenap orang yang menghuninya. Terucap kata-kata kecil namun
berarti aku pengen pulang diiringi
tangisku yang mulai memecah. Ada sebendung rasa kangen yang luar biasa
menggerogoti hatiku. Namun aku tersadar dan teringat kata-kata Bapak jangan jadi cengeng kalau mau sukses, jangan
terus-terusan merengek sama Ibumu, jangan menjadi orang yang lemah ketika
menghadapi rintangan, tapi jadilah wanita tegar seperti Ibumu, itulah
kata-kata Bapak yang membuatku tersadar kemudian dan membuatku segera menghapus
air mata rindu yang teramat sangat.
Ibu lahir dari keluarga yang kondisi sosialnya
menengah ke bawah malah cenderung ke bawah. Dari kecil Ibu sudah terbiasa hidup
seadanya. Keadaanlah yang mengharuskan Ibu yang merupakan kembang desa terpaksa
putus sekolah. Ibu hanya tamatan SMP. Jika boleh memilih, mungkin Ibu tidak
ingin seperti ini. Namun ini bukan sebuah pilihan untuk Ibu. Oleh karena itu
Ibu menjalaninya dengan ikhlas dan legowo.
Lulus dari SMP, Ibu bekerja disalah satu Bank yang pada jamannya dijuluki
dengan sebutan Bank Plecit. Keinginan Ibu yang berkerja ditentang oleh orang
tuanya namun Ibu juga tak ada pilihan lain selain bekerja. Adik-adik Ibu masih
kecil dan semua butuh pendidikan yang layak pikir ibu. Ibu tak banyak mengeluh
apapun bahkan setelah menikah dengan Bapak yang merupakan anggota TNI AD dengan
gaji yang lumayan besar yang sanggup memenuhi kebutuhan keluarga. Ibu selalu
mengalah demi kepentingan Bapak dan anak-anaknya. Ya, itulah Ibu yang secara
kodrati memiliki perasaan yang teramat apik.
Istilah kasarnya ”aku ora mangan ora popo
sing penting anak bojoku wareg“. Dari Ibu aku banyak belajar salah satunya
adalah ketulusan. Selama ini yang aku tahu, tulus belum tentu ikhlas. Namun
semuanya ditepiskan oleh Ibu dengan menunjukkan kepadaku, ini lho tulus. Ibu dengan tulus selalu menyisakan aku kekuatan yang ia miliki hanya untuk sekedar
membangkitkanku dari keterpurukanku. Ibu dengan tulus mau bersusah payah
memasakkanku ketika aku pulang ke rumah. Ibu dengan tulus mau memijiti aku
ketika aku capek. Ibu yang dengan ketulusannya menunggu aku bolak-balik rawat
inap di RSUD karena aku mesti tranfusi daraekatmh dan Ibu yang mau tetap
membuka mata ketika aku terlelap tidur di atas ranja dng berbalut selang infus.
Itulah Ibuku. Dia yang mau mendengarkan semua keluh kesahku. Dia yang mau
memandikan aku ketika selang infus menjadi penghalangku untuk mandi sendiri.
Ibu yang membuatku kuat. Ketika ia sedih, hatiku selalu gundah. Ketika ia
sakit, aku bingung hendak melakukan apa. Aku bahkan dengan sikapku yang tegas
seringkali salah memberi penjelasan pada Ibu. Dosanya aku. Aku hanya bisa
menangis mengingatnya.
Ibu,
aku rindu padamu........
Kadang hal-hal kecil buatku adalah hal besar buat Ibu.
Pada dasarnya sesuatu yang diharapkan Ibu adalah demi kebaikanku. Misal saja
ketika aku mulai jengah terhadap perkuliahanku, Ibu dengan senyumnya mampu
membuatku bangkit kembali. Ya, diakan melakukan papun demi kebaikan anaknya.
Tak peduli sebahaya apapun, bagiku di dekat Ibu jauh lebih nyaman. Tak banyak
kata maupun cerita yang mampu ku utarakan. Yang ada hanyalah perasaan bangga
kepada beliau. Aku ingin seperti beliau, yang diusia senjanya masih tetap
berkarya. Masih sanggup untuk memasak dengan senjata andalannya yaitu wajan dan
sutil kebanggaannya. Ibuku memang bukan seorang dengan ilmu yang tinggi, bukan
seorang pengusaha. Namun dengan ketekunan dan keuletannya ia mampu berbuat
sesuatu yang berdampak besar terhadap hidupnya dan keluarganya. Favoritku ya Ibuku, Jeng Mami.
Senyum Ibu adalah obat untukku. Saat Ibu tersenyum,
ada berjuta-juta kedamaian disana. Namun, ketika ia bimbang, rasanya aku ingin
mengucapkan kalimat ini untuknya “Ibu,
izinkan aku menadah air matamu yang jatuh, agar aku paham apa yang sedang
engkau bimbangkan“. Ada perasaan seperti sesak di dada namun tak dapat
keluar dengan lega. Rasa ini seperti ingin buang angin tapi susah untuk
mengeluarkannya. Rasanya penuh dan ketika dikeluarkan ada rasa kelegaan yang
luar biasanya.
Mencintaimu
Ibu, aku memahami cinta yang sesungguhnya. Cinta Ibu itu memang indah. Dia akan
selalu menolong, sebelum kita bilang “aku sudah tak sanggup lagi“.
“hahahahahahahahahahahaha“ suara Ibu tampak menggema
diseantero ruangan. Tawa yang sangat ku rindukan dikala aku jauh darinya. Aku
ingin Ibu seperti ini, selalu tertawa dalam hidupnya. Hingga tak ada kesedihan
yang mampir untuk sekedar bercuap-cuap
dengannya. Aku merindukan Ibu. Wanita hebat, hanya dia satu-satunya Ibu. Dengan
tulang-tulang kokohnya ia mampu menjadikanku wanita kuat. Kuat terhadap
berbagai cobaan yang menghadang, kuat ketika mesti tersenyum walau hati hancur,
dan kuat dalam segala hal.
Ibu
bukan seorang pakar memasak,
Tapi
entah mengapa, tetap saja selalu nikmat rasanya.
Entah
apa yang engkau pikirkan Bu, begitu berat yang tersirat diwajahmu.
Yang
aku tau, engkau hanya menyiapkan, makanan kecil saat aku
lapar.
Ya itu benar. Aku paling suka ketika Ibu memasakanku
sayur buntil. Makanan orang desa jaman dahulu yang rasanya jooooooosh markotop. Makanan sekelas pizza lewat seketika. Sayur
buntil itu sayur yang terbuat dari daun singkong yang diisi bandeng, kelapa,
bumbu cabe, dan tempe. Itu buntil versi Ibuku. Apa buntil versi Ibumu? Ibu
paling bisa diandalkan dalam berbagai hal. Ibu pasti tahu ketika muka-muka kami
lapar. Dan pasti Ibu akan pergi ke warung Mbak Tari untuk membeli bahan masakan
untuk diolah di rumah. Oh Ibuku, Sarange*. Walaupun Ibu capek luar biasa, Ibu
tetap akan menyediakan makanan untukku dan keluarga.
Cantik
itu, Ibu.
Kecantikan Ibu itu tak hanya diwajahnya, tetapi selalu
lebih cantik pada hatinya. Sumpah Ibuku adalah wanita tercantik di dunia.
Bahkan selebriti sekelas Paris Hilton saja kalah dengan kecantikan Ibuku. Model
sekelas Dian Sastrowardoyo pun lewat. Masih lagi, presenter Oprah saja lewat
seketika ketika disandingkan dengan Ibuku. Apapun itu, buatku Ibuku yang paling
lebih dari siapapun. Swear deh gak bohong.
Ibuku hebat euy.
Sekarang Ibu lagi sibuk dengan kerjaannya dalam usaha pertanian. Dengan
otot tuanya ia membantu Bapak mengolah sawah. Ibu tahu ini bukan pekerjaan
seorang wanita. Namun, bagi Ibu, dekat dengan Ayah akan membuat segalanya
menjadi baik. Ibu hanya perlu mental baja saja untuk menguatkan hatinya membantu
Bapak. Bapak sangat beruntung memiliki Istri seperti Ibu yang selalu care
padanya. Namun,
Bapak sama sekali bukan tipikal orang yang romantis. Romantis buat Bapak adalah
ketika Bapak mampu membuat Ibu tak bersedih lagi.
Perhatikan
ku lihatkan
Semua
yang pernah ada kan ku taruhkan
Perasaan
ku berikan
Tak
sedikitpun waktu kan ku tinggalkan
Ku
serahkan semua yang kau pinta kan ku penuhi
Ku
bertahan disaat Bunda disisiku
Maha
besar kau telah berikanku Ibu
Dia
segalanya di hidupku
Bunda
yang ku cintai di dalam hatiku
Dia
terbaik dimataku
Bunda
by Geisha
Mendengar lirik lagu itu membuatku miris.
Entah
mengapa ketika aku menangis, namamu selalu nomor satu yang muncul dibenak
pikiranku untuk mengadu.
Suatu ketika kami berdua duduk-duduk menghabiskan
senja di pelataran rumah. Sambil guyon
aku bertanya pada Ibu, jika suatu saat aku menikah dan harus mengikuti suami,
bagaimana keadaanku? Tanpa Ibu apa aku mampu? Dengan senyumnya yang khas, Ibu
menjawab, kalau kamu mau menjadi wanita yang tangguh tahan banting, taatlah
pada suamimu. Aku diam tak mengucapkan satu patah katapun. Aku berfikir,
seikhlaskah Ibu akan melepasku? Begitu sajakan Ibu akan meninggalkanku? Apa Ibu
mengucapkan kata-kata itu dengan sadar? Oh Tuhan, Ibuku begitu ikhlas. Tapi apa
aku sanggup untuk berpisah dan melambaikan salam perpisahan kepadanya? Tak
pernah terlintas di dalam benakku akan perpisahan itu.
Di tanah
rantau ini aku berusaha menjadi anak manis yang Ibu pinta. Aku pun hanya
meminta satu hal pada Ibu, agar Ibu tetap sehat
karena Ibu harus melihat hasil jerih payahku selama ini. Ibu harus merasakan
hasil jerih payahku, Bu. Ini semua untuk Ibu, sang maestro koki rumahan yang
menjadi inspirasi dalam tiap hembusan nafasku dalam hidupku. Dengan wajan dan
sutilnya, apapun bisa ia buat menjadi makanan. Ibuku adalah my women, my inspiration in my world.
kata
mereka diriku selalu dimanja
kata
mereka diriku selalu ditimang
nada-nada
yang indah
slalu
terurai darinya
tangisan
nakal dari bibirku
tak
kan jadi deritanya
kata
mereka diriku selalu dimanja
kata
mereka diriku selalu ditimang
oh
bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku
Untaian nada ini tak berarti apapun jika dibanding
dengan apa yang telah dilakukan oleh Ibu terhadapku selama ini. Bagiku, Ibu
super women dalam hatiku. Ibu tahu aku bukan anak yang suka menggombal untuk
membuatnya bangga. Ibu tahu aku tak banyak cakap. Dan Ibu tahu apa yang akan ku
katakan padanya. Ibu lebih dari segalanya untukku.
Senyum semangatku, ku
dedikasikan untuk Ibuku.
Teruntuk Ibuku Tercinta, Karmi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar