Total Tayangan Halaman

Minggu, 18 Maret 2012

cerpenku saat mengisi salah satu tugas makul Telaah Buku Teks ^_^

Wajan dan Sutil Ibu

_nanik_
Sreng……. Sreng……. sreng…………
Tepat pukul 04.30 terdengar suara sutil dan wajan yang seperti biasa dialunkan oleh sang maestro koki. Meski koki rumahan yang kreatifitasnya terkungkum dalam keterbatasan material, kualitas rasa masakannya tak kalah dibanding dengan koki restoran bintang lima. Pukul 05.00 seperti biasa terdengar suara ia meneriakiku untuk segera menjalankan ibadah shalat subuh. Seperti biasa, pintu kamarku digedornya. Dan seperti biasa pula, “hemmmmmm” balasanku. Semua telah menjadi hal yang biasa dan semua menjadi terbiasa karena dibiasakan. Ditinggalnya aku kemudian dilanjutkan kembali ritual memasaknya. Setelah shalat subuh, aku kembali tidur dan bangun pada pukul 06. 00. Ritualku ketika aku bangun pagi adalah tanpa mencuci muka bahkan sekedar sikat gigi, aku langsung bergegas mengambil sapu dan ku sapu seluruh isi rumah dari debu yang melekat pada lantai. Ku tepiskan debu yang menempel pada kursi dan jendela dengan kemoceng. Setelah itu aku bergegas ke dapur. Kehampiri Ibu yang sedang asik menyeruput secangkir teh panas kesukaannya. Seharusnya tadi aku yang membuatkannya untuk Ibu, pikirku.

”Bu, mau masak apa?“ tanyaku membuka pembicaraan.
”Dah lapar to? tanyanya sembari menyeruput tehnya kembali.
“He’em lapar bu. Mau masak apa? Bapak mana bu?”. “lha itu di depan rumah. Sana ke Mbak Tari beli sayur dulu. Terserah pilih yang kamu suka.” Lanjutnya kemudian.
“Iya.”
Ku kayuh sepeda onthelku menuju rumah Mbak Tari untuk membeli sayur. Kios sayur dekat rumahku satu-satunya memang hanya kios milik Mbak Tari, tetanggaku. Setelah membeli segala sesuatu yang aku perlukan, aku bergegas pulang. Tanjakan menuju rumahku membuatku semakin lapar saja. Hadewhhhh, keluhku. Dan akhirnya sampailah aku dirumah. Kuberikan semua belanjaan kepada Ibu. Dan kami bersiap untuk mengolahnya.
“Jadi balik nanti?“ Ibu mulai bertanya padaku.
“He’em bu“.
 “Ya udah. Mau bawa apa?“.
“Bawa apaan yo? Gak usahlah bu.“ Senyumku.
Aku segera memotong wortel, kubis, kentang yang akan dimasak oleh Ibu. Segala macam bahan masakan yang hendak dimasak, aku potong dengan baik sesuai instruksi dari Ibu. Setelah selesai mengerjakan semua urusan rumah, aku segera mengemasi barang yang akan aku bawa ke Solo lagi. Setelah kupikir semua telah selesai, aku menghampiri Ibu di dapur lagi. Tampak ia sedang mengemasi masakan untukku. Dengan telaten ia melakukan semuanya seorang diri. Aku hanya tertegun melihatnya melakukan itu semua. Wajah tuanya yang mulai keriput mencerminkan kecantikan yang sesungguhnya. Kecantikan seorang Ibu.
“Ini dibawa aja nduk“ perintah Ibu.
“Gak usah bu, buat bapak sama mas aja di rumah.“
“Ya Allah nduk, Ibu lho di rumah selalu mikirin kamu kalo di Solo makannya gimana kok. Ibu gak apa gak makan yang penting anak Ibu makan.“ ucapnya dengan nada sedih.
Aku hanya diam tak berkutik ketika kudengar Ibuku mengucapkannya dengan sedih. Oh Tuhan, apakah aku sudah membuatnya bersedih? Tuhan ampuni aku, batinku miris. Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya ke Solo saja.
Wajan dan sutil Ibu meski sudah tampak tak layak pakai namun masih bisa memberikan sesuatu yang sangat mengesankan untukku. Aku banyak belajar dari ibu tentang segala hal yang ada di dalam hidupku. Entah hal sekecil apapun itu. Di rumah, tempat yang biasa kami gunakan untuk bergosip biasanya di dapur. Serambi memasak, kami mulai membicarakan hal-hal yang tak penting sampai hal-hal yang penting. Dan biasanya tertawa lepaspun tempatnya ya di dapur ini berdekatan dengan wajan dan sutil milik Ibu. Kami berdua seperti seorang sahabat. Kadang dengan guyon, aku memanggil Ibu dengan sebutan “Jeng Mami”. Begitu pula Ibuku ketika bercanda sering memanggilku dengan sebutan “Mak Lampir” karena hobiku yang suka marah-marah tak jelas atau istilah gaulnya “Geje” dan biasanya disertai dengan monyongnya bibirku sehingga bisa dikucir kata Ibu. Ledekan-ledekan seperti itu membuatku menjadi kangen terhadap suasana rumah, kangen kepada Bapak, kangen kepada Ibu, kangen kepada Kakak dan kangen kepada wajan dan sutil kebanggaan Ibu. Alat sederhana yang dapat menyatukan visi dan misi antara aku dan Ibu.
Ibu, aku rindu padamu……………
Ibu, bolehkah aku sedikit mengeluh padamu?
Tapi jangan bilang sama Bapak ya….
Bu, aku capek.....
Perasaan putus asa seperti ini kadang menyelinap masuk diantara pikiranku yang sedang fokus mengerjakan tugas-tugasku. Sudut mataku mulai berair karena kelelahan menatap layar monitor si bulug, laptop kesayanganku yang meski bobrok pada keyboardnya tapi masih bisa kugunakan sampai semester tujuh ini. Seraya melepaskan kacamataku yang sedari tadi menempel pada mataku, kupejamkan mataku. Terlintas kembali memoriku bersama keluargaku. Keluarga kecil yang konflik, bahagia, iri, kompak menjadi satu berbaur dengan segenap orang yang menghuninya. Terucap kata-kata kecil namun berarti aku pengen pulang diiringi tangisku yang mulai memecah. Ada sebendung rasa kangen yang luar biasa menggerogoti hatiku. Namun aku tersadar dan teringat kata-kata Bapak jangan jadi cengeng kalau mau sukses, jangan terus-terusan merengek sama Ibumu, jangan menjadi orang yang lemah ketika menghadapi rintangan, tapi jadilah wanita tegar seperti Ibumu, itulah kata-kata Bapak yang membuatku tersadar kemudian dan membuatku segera menghapus air mata rindu yang teramat sangat.
Ibu lahir dari keluarga yang kondisi sosialnya menengah ke bawah malah cenderung ke bawah. Dari kecil Ibu sudah terbiasa hidup seadanya. Keadaanlah yang mengharuskan Ibu yang merupakan kembang desa terpaksa putus sekolah. Ibu hanya tamatan SMP. Jika boleh memilih, mungkin Ibu tidak ingin seperti ini. Namun ini bukan sebuah pilihan untuk Ibu. Oleh karena itu Ibu menjalaninya dengan ikhlas dan legowo. Lulus dari SMP, Ibu bekerja disalah satu Bank yang pada jamannya dijuluki dengan sebutan Bank Plecit. Keinginan Ibu yang berkerja ditentang oleh orang tuanya namun Ibu juga tak ada pilihan lain selain bekerja. Adik-adik Ibu masih kecil dan semua butuh pendidikan yang layak pikir ibu. Ibu tak banyak mengeluh apapun bahkan setelah menikah dengan Bapak yang merupakan anggota TNI AD dengan gaji yang lumayan besar yang sanggup memenuhi kebutuhan keluarga. Ibu selalu mengalah demi kepentingan Bapak dan anak-anaknya. Ya, itulah Ibu yang secara kodrati memiliki perasaan yang teramat apik. Istilah kasarnya ”aku ora mangan ora popo sing penting anak bojoku wareg“. Dari Ibu aku banyak belajar salah satunya adalah ketulusan. Selama ini yang aku tahu, tulus belum tentu ikhlas. Namun semuanya ditepiskan oleh Ibu dengan menunjukkan kepadaku, ini lho tulus. Ibu dengan tulus selalu menyisakan aku  kekuatan yang ia miliki hanya untuk sekedar membangkitkanku dari keterpurukanku. Ibu dengan tulus mau bersusah payah memasakkanku ketika aku pulang ke rumah. Ibu dengan tulus mau memijiti aku ketika aku capek. Ibu yang dengan ketulusannya menunggu aku bolak-balik rawat inap di RSUD karena aku mesti tranfusi daraekatmh dan Ibu yang mau tetap membuka mata ketika aku terlelap tidur di atas ranja dng berbalut selang infus. Itulah Ibuku. Dia yang mau mendengarkan semua keluh kesahku. Dia yang mau memandikan aku ketika selang infus menjadi penghalangku untuk mandi sendiri. Ibu yang membuatku kuat. Ketika ia sedih, hatiku selalu gundah. Ketika ia sakit, aku bingung hendak melakukan apa. Aku bahkan dengan sikapku yang tegas seringkali salah memberi penjelasan pada Ibu. Dosanya aku. Aku hanya bisa menangis mengingatnya.
Ibu, aku rindu padamu........
Kadang hal-hal kecil buatku adalah hal besar buat Ibu. Pada dasarnya sesuatu yang diharapkan Ibu adalah demi kebaikanku. Misal saja ketika aku mulai jengah terhadap perkuliahanku, Ibu dengan senyumnya mampu membuatku bangkit kembali. Ya, diakan melakukan papun demi kebaikan anaknya. Tak peduli sebahaya apapun, bagiku di dekat Ibu jauh lebih nyaman. Tak banyak kata maupun cerita yang mampu ku utarakan. Yang ada hanyalah perasaan bangga kepada beliau. Aku ingin seperti beliau, yang diusia senjanya masih tetap berkarya. Masih sanggup untuk memasak dengan senjata andalannya yaitu wajan dan sutil kebanggaannya. Ibuku memang bukan seorang dengan ilmu yang tinggi, bukan seorang pengusaha. Namun dengan ketekunan dan keuletannya ia mampu berbuat sesuatu yang berdampak besar terhadap hidupnya dan keluarganya. Favoritku ya Ibuku, Jeng Mami.
Senyum Ibu adalah obat untukku. Saat Ibu tersenyum, ada berjuta-juta kedamaian disana. Namun, ketika ia bimbang, rasanya aku ingin mengucapkan kalimat ini untuknya “Ibu, izinkan aku menadah air matamu yang jatuh, agar aku paham apa yang sedang engkau bimbangkan“. Ada perasaan seperti sesak di dada namun tak dapat keluar dengan lega. Rasa ini seperti ingin buang angin tapi susah untuk mengeluarkannya. Rasanya penuh dan ketika dikeluarkan ada rasa kelegaan yang luar biasanya.
Mencintaimu Ibu, aku memahami cinta yang sesungguhnya. Cinta Ibu itu memang indah. Dia akan selalu menolong, sebelum kita bilang “aku sudah tak sanggup lagi“.
“hahahahahahahahahahahaha“ suara Ibu tampak menggema diseantero ruangan. Tawa yang sangat ku rindukan dikala aku jauh darinya. Aku ingin Ibu seperti ini, selalu tertawa dalam hidupnya. Hingga tak ada kesedihan yang mampir untuk sekedar bercuap-cuap dengannya. Aku merindukan Ibu. Wanita hebat, hanya dia satu-satunya Ibu. Dengan tulang-tulang kokohnya ia mampu menjadikanku wanita kuat. Kuat terhadap berbagai cobaan yang menghadang, kuat ketika mesti tersenyum walau hati hancur, dan kuat dalam segala hal.
Ibu bukan seorang pakar memasak,
Tapi entah mengapa, tetap saja selalu nikmat rasanya.
Entah apa yang engkau pikirkan Bu, begitu berat yang tersirat diwajahmu.
Yang aku tau, engkau hanya menyiapkan, makanan kecil saat aku lapar.
Ya itu benar. Aku paling suka ketika Ibu memasakanku sayur buntil. Makanan orang desa jaman dahulu yang rasanya jooooooosh markotop. Makanan sekelas pizza lewat seketika. Sayur buntil itu sayur yang terbuat dari daun singkong yang diisi bandeng, kelapa, bumbu cabe, dan tempe. Itu buntil versi Ibuku. Apa buntil versi Ibumu? Ibu paling bisa diandalkan dalam berbagai hal. Ibu pasti tahu ketika muka-muka kami lapar. Dan pasti Ibu akan pergi ke warung Mbak Tari untuk membeli bahan masakan untuk diolah di rumah. Oh Ibuku, Sarange*. Walaupun Ibu capek luar biasa, Ibu tetap akan menyediakan makanan untukku dan keluarga.
Cantik itu, Ibu.
Kecantikan Ibu itu tak hanya diwajahnya, tetapi selalu lebih cantik pada hatinya. Sumpah Ibuku adalah wanita tercantik di dunia. Bahkan selebriti sekelas Paris Hilton saja kalah dengan kecantikan Ibuku. Model sekelas Dian Sastrowardoyo pun lewat. Masih lagi, presenter Oprah saja lewat seketika ketika disandingkan dengan Ibuku. Apapun itu, buatku Ibuku yang paling lebih dari siapapun. Swear deh gak bohong.
Ibuku hebat euy. Sekarang Ibu lagi sibuk dengan kerjaannya dalam usaha pertanian. Dengan otot tuanya ia membantu Bapak mengolah sawah. Ibu tahu ini bukan pekerjaan seorang wanita. Namun, bagi Ibu, dekat dengan Ayah akan membuat segalanya menjadi baik. Ibu hanya perlu mental baja saja untuk menguatkan hatinya membantu Bapak. Bapak sangat beruntung memiliki Istri seperti Ibu yang selalu care padanya. Namun, Bapak sama sekali bukan tipikal orang yang romantis. Romantis buat Bapak adalah ketika Bapak mampu membuat Ibu tak bersedih lagi.
Perhatikan ku lihatkan
Semua yang pernah ada kan ku taruhkan
Perasaan ku berikan
Tak sedikitpun waktu kan ku tinggalkan
Ku serahkan semua yang kau pinta kan ku penuhi
Ku bertahan disaat Bunda disisiku
Maha besar kau telah berikanku Ibu
Dia segalanya di hidupku
Bunda yang ku cintai di dalam hatiku
Dia terbaik dimataku
Bunda by Geisha
Mendengar lirik lagu itu membuatku miris. Ibu, maafkan aku belum bisa membalas ikhlasmu, aku belum bisa membuatmu bangga, aku belum bisa membuatmu bahagia.
Wajan dan sutil Ibu membuatku ingin segera pulang menemui Ibu. Pasti Ibu sudah menyiapkan bahan obrolan dan gosip seru, pikirku.hehehehehehehe.
Entah mengapa ketika aku menangis, namamu selalu nomor satu yang muncul dibenak pikiranku untuk mengadu.
Suatu ketika kami berdua duduk-duduk menghabiskan senja di pelataran rumah. Sambil guyon aku bertanya pada Ibu, jika suatu saat aku menikah dan harus mengikuti suami, bagaimana keadaanku? Tanpa Ibu apa aku mampu? Dengan senyumnya yang khas, Ibu menjawab, kalau kamu mau menjadi wanita yang tangguh tahan banting, taatlah pada suamimu. Aku diam tak mengucapkan satu patah katapun. Aku berfikir, seikhlaskah Ibu akan melepasku? Begitu sajakan Ibu akan meninggalkanku? Apa Ibu mengucapkan kata-kata itu dengan sadar? Oh Tuhan, Ibuku begitu ikhlas. Tapi apa aku sanggup untuk berpisah dan melambaikan salam perpisahan kepadanya? Tak pernah terlintas di dalam benakku akan perpisahan itu.
Cinta itu sederhana, seperti Ibu yang menjadikan kekurangan kita sebuah keistimewaan. Cinta yang tak pernah putus dan pupus,  hanya cinta dia kepada kita. Dan dia itu hanya, Ibu.
Di tanah rantau ini aku berusaha menjadi anak manis yang Ibu pinta. Aku pun hanya meminta satu hal pada Ibu, agar Ibu tetap sehat karena Ibu harus melihat hasil jerih payahku selama ini. Ibu harus merasakan hasil jerih payahku, Bu. Ini semua untuk Ibu, sang maestro koki rumahan yang menjadi inspirasi dalam tiap hembusan nafasku dalam hidupku. Dengan wajan dan sutilnya, apapun bisa ia buat menjadi makanan. Ibuku adalah my women, my inspiration in my world.
kata mereka diriku selalu dimanja
kata mereka diriku selalu ditimang
nada-nada yang indah
slalu terurai darinya
tangisan nakal dari bibirku
tak kan jadi deritanya
kata mereka diriku selalu dimanja
kata mereka diriku selalu ditimang
oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku
Untaian nada ini tak berarti apapun jika dibanding dengan apa yang telah dilakukan oleh Ibu terhadapku selama ini. Bagiku, Ibu super women dalam hatiku. Ibu tahu aku bukan anak yang suka menggombal untuk membuatnya bangga. Ibu tahu aku tak banyak cakap. Dan Ibu tahu apa yang akan ku katakan padanya. Ibu lebih dari segalanya untukku.
Senyum semangatku, ku dedikasikan untuk Ibuku.

Teruntuk Ibuku Tercinta, Karmi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar